Postingan

TANAH

"Tanah tidak sadar telah menyakiti TANAH, dengan tidak menanam kopi, teh, dan tebu. Melainkan yang mereka (Tanah) tanam di inti TANAH adalah setangkai mawar berduri tanpa akar yang hampir saja mati." 🌹

Estetika Rindu (Gandrungmangu)

Estetika Rindu "Gandrungmangu bagiku bukan sekadar titik koordinat untuk pulang, pun bukan hanya perihal ritual mudik tahunan. Di sana, ada satu raga yang tabah menanti—seorang insan yang menjadi pusat gravitasi bagi seluruh tujuanku. Ia adalah muara tempatku melarung rindu yang selalu berdenyut kencang, mengisi setiap jeda dan detik dalam napasku." Wak_rif Serang Baru, 14 Maret 2026.

sebuah pesan untuk jiwa yang tenang

Bab 1: Tamu Tak Diundang di Pukul Dua Pagi Lampu neon di langit-langit kontrakan Taul berkedip redup. Ia terbangun dengan napas memburu. Di telinganya, suara tawa Astri masih terngiang, begitu nyata seolah wanita itu baru saja duduk di pinggir kasurnya. Padahal, sudah berbulan-bulan Taul merasa hidupnya baik-baik saja di Cikarang. Ia punya pekerjaan tetap, lingkungan baru, dan fokus yang jelas. Namun, Astri selalu punya cara untuk "menjebol" pertahanan bawah sadarnya. Taul menghela napas, menatap layar ponselnya. Kosong. "Kenapa kamu masih di sini, As? Di dalam kepalaku?" bisiknya pada kegelapan. Bab 2: Rutinitas dan Penyangkalan Cikarang pagi hari adalah hutan beton dan kepulan asap knalpot. Taul memacu motornya di antara ribuan buruh pabrik lainnya. Logikanya berkata bahwa Astri adalah masa lalu yang sudah selesai. Ia sudah tidak lagi mencari tahu kabar wanita itu, tidak lagi memantau sosial medianya. Namun, setiap kali ia melihat plat kendaraan berinisial 'R...

Estetika Rindu

Serang baru bulan Januari, Hujan setiap hari. Aku Sendiri, Disini. Disini, aku termangu tanpamu, Jarak tersekat waktu.  Aku Rindu, Padamu. Padamu, rindu wangi bunga, Menggoda sang renjana. Silau mata, Menyala. Menyala, beradu hembus nafas, Tirai bunga terlepas. Matras kapas, Lekas. Lekas, rindu menjelma jingga, Membasuh cakrawala senja. Aksara jiwa, Terjaga.  Terjaga, selarik doa lirih, Membasuh lara yang perih. Kekasih terpilih, Pulih. Pulih, rintik kian mereda, Serang Baru saksi setia. Rindu bermuara, Ada. #Wak_rif Serang Baru 24 Januari 2026

FINTA ORCHESTRA DI FAMIGLIA

-FINTA ORCHESTRA DI FAMIGLIA- Dalam orkestra, setiap musisi biasanya memiliki peran yang spesifik dan terdefinisi dengan jelas. Seorang maestro yang berpengalaman seharusnya memahami hal ini dan menghargai keahlian masing-masing musisi. Namun, jika orkestra tersebut dipimpin oleh seorang kapitalis yang tidak peduli dengan aspek artistik, situasinya bisa sangat berbeda. Dalam sistem yang kapitalis ini, musisi mungkin akan diminta untuk memainkan berbagai alat musik, tanpa mempertimbangkan kemampuan atau spesialisasi mereka. Mereka mungkin harus memainkan gitar, biola, cello, piano, atau bahkan instrumen yang tidak biasa seperti gunting rumput, gergaji kayu, stir mobil dan kain lap. Jika mereka tidak bisa melakukannya dengan sempurna, kesalahan akan selalu dianggap berasal dari musisi, bukan dari konduktor yang memberikan instruksi yang tidak realistis. Jika musisi mencoba untuk memprotes atau mengungkapkan kekhawatiran mereka, konduktor yang kapitalis ini mungkin akan mengabaikan mereka...

SENJAta cinta.

SENJAta cinta. Bersenjata cinta di bukanya tirai bermotif bunga milik wanita penyaji kopi pencari belati wajah bercahaya menyilaukan mata, mata sayup senja menusuk renjana, lentik jemari memegang belati, nafas menyenandungkan lagu api. Rindu bertebaran tertiup angin nafas, Renjana raya patah oleh silau matamu, Kesaktian di lahapnya gairah lama yang tertutup debu. Zaman berganti, belati berdarah di pegangnya, meluka bersama. tubuh bercahaya menyinari gelap malam, tumbuhnya Sayap membawanya ke Awang awang. datangnya hama gairah,  tetes keringat aroma bunga, terlindasnya ego di tanggalkannya belati yang tak lagi tajam, kini tersisih, meronta di awang-awang, di patahkannya oleh kenyataan. Cikarang pusat 24 Desember 2023.

Alkisah 8ersamamu.

  Alkisah bersamamu. Serang baru. Pada pukul 23.36, hari Rabu, tanggal 10 Desember, di luar terdengar rintik hujan. Aku mulai mengetik pada layar handphone yang di pojok kanan atas menunjukkan persentase baterai masih 83 persen, cukuplah untuk menulis tanpa kabel charger terpasang pada konektor. Ya, aku sengaja menulis ini untuk menjaga konsistensiku dalam memperingati hari jadi pernikahanku, yang pada tanggal 25 Desember nanti tepat 8 tahun. Kali ini aku ingin menuliskan tentang bagaimana proses awal pertemuanku dengan dirinya. Pada saat itu, sekitar tahun 2014, aku pertama kali bertemu dan mengenalmu di suatu acara pagelaran budaya yang berada di desamu. Entah apa yang membawaku pergi menyaksikan pagelaran itu, tapi momen pertemuan pertama kita menjadi kenangan yang tak terlupakan. Saat itu aku yang sudah berada di lokasi pagelaran budaya, aku yang sedang duduk di kendaraanku dan tak sengaja melihatmu di antara kerumunan. Sejenak aku memperhatikanmu dari kejauhan, lalu aku mencob...