sebuah pesan untuk jiwa yang tenang

Bab 1: Tamu Tak Diundang di Pukul Dua Pagi


Lampu neon di langit-langit kontrakan Taul berkedip redup. Ia terbangun dengan napas memburu. Di telinganya, suara tawa Astri masih terngiang, begitu nyata seolah wanita itu baru saja duduk di pinggir kasurnya. Padahal, sudah berbulan-bulan Taul merasa hidupnya baik-baik saja di Cikarang. Ia punya pekerjaan tetap, lingkungan baru, dan fokus yang jelas. Namun, Astri selalu punya cara untuk "menjebol" pertahanan bawah sadarnya. Taul menghela napas, menatap layar ponselnya. Kosong. "Kenapa kamu masih di sini, As? Di dalam kepalaku?" bisiknya pada kegelapan.


Bab 2: Rutinitas dan Penyangkalan


Cikarang pagi hari adalah hutan beton dan kepulan asap knalpot. Taul memacu motornya di antara ribuan buruh pabrik lainnya. Logikanya berkata bahwa Astri adalah masa lalu yang sudah selesai. Ia sudah tidak lagi mencari tahu kabar wanita itu, tidak lagi memantau sosial medianya. Namun, setiap kali ia melihat plat kendaraan berinisial 'R' (Cilacap), dadanya sedikit sesak. Ia mencoba membela diri: *Ini cuma efek rindu kampung halaman, bukan rindu orangnya.* Tapi ia tahu, ia sedang membohongi diri sendiri.



Bab 3: Senja di Central Park Meikarta


Cikarang sore itu sedang gerah-gerahnya, namun di area Central Park Meikarta, angin berembus sedikit lebih berani. Taul ingat betul, ia mengenakan jaket *hoodie* yang agak kusam karena sering dipakai kerja shift malam, sementara Astri tampil sederhana dengan kemeja flanel dan sepatu kets yang juga sudah tidak baru lagi.


Mereka berdua duduk di bangku taman yang menghadap ke danau buatan. Di sekeliling mereka, gedung-gedung apartemen menjulang tinggi seperti raksasa yang belum selesai dibangun, dikelilingi *crane* yang diam mematung.


"Ul, koe tau mikir ora?" tanya Astri tiba-tiba sambil memandangi riak air. (Ul, kamu pernah berpikir tidak?)


"Mikir apa, As?"


"Nang kene kabeh katon megah, tapi jebule isih sepi ya. Kaya wong perantauan... keton kuat nang jabane, tapi nang jerone isih akeh sing kosong," jawab Astri tenang. (Di sini semua kelihatan megah, tapi ternyata masih sepi ya. Seperti orang perantauan... kelihatan kuat di luar, tapi di dalam masih banyak yang kosong.)


Taul terdiam. Ia belum pernah bertemu orang di Cikarang yang berbicara dengan kedalaman seperti itu. Kebanyakan rekan kerjanya hanya bicara tentang lemburan, cicilan motor, atau hiburan akhir pekan. Tapi Astri berbeda.


Kejadian yang paling membekas terjadi beberapa menit kemudian. Seorang bapak penjual balon yang sudah tua lewat di depan mereka. Langkahnya terseret, wajahnya legam terbakar matahari Cikarang. Astri memanggil bapak itu. Taul mengira Astri ingin membeli balon untuk sekadar kasihan, tapi ia salah.


Astri membeli dua balon, lalu ia justru mengajak bapak itu duduk sebentar di bangku kosong sebelah mereka. Astri mengeluarkan botol minum dari tasnya dan memberikannya kepada bapak itu tanpa rasa canggung sedikit pun. Ia mendengarkan cerita si bapak tentang cucunya di kampung dengan perhatian yang tulus—bukan sekadar basa-basi.


Di mata Taul, saat itulah Astri terlihat sangat "bercahaya". Cahaya itu bukan berasal dari lampu-lampu taman yang mulai menyala, tapi dari **karakter baiknya**.


*"Dudu merga rupane,"* batin Taul saat itu. (Bukan karena wajahnya).


Taul menyadari bahwa di tanah perantauan yang egois dan keras ini, Astri adalah anomali. Ia adalah sosok yang tetap memanusiakan manusia di tengah mesin-mesin industri yang dingin. Di tepi danau Meikarta itulah, untuk pertama kalinya, Taul menaruh hatinya secara sadar. Ia jatuh cinta pada ketulusan yang dibawa Astri dari Cilacap, sebuah kebaikan yang tidak ikut luntur oleh debu-debu Cikarang.


Kenangan itulah yang selama ini "mengunci" Taul. Ia tidak hanya merindukan Astri, tapi ia merindukan perasaan kagum pada sosok manusia sebaik itu.



Bab 4: Penjara Rahasia


Hujan turun membasahi kawasan industri. Taul duduk sendirian di warung kopi. Ia menyadari bahwa mimpinya adalah "pesan" dari dirinya yang dulu. Perasaan yang tidak diungkapkan ternyata tidak hilang; ia hanya mengendap di dasar hati, menjadi residu yang mengotori ketenangan tidurnya. Ia merasa seperti membawa tas punggung yang penuh batu. Selama ia tidak bicara, batu-batu itu akan terus ada di sana, memberatkan setiap langkahnya menuju masa depan.


Bab 5 (Tambahan): Obrolan di Sela Deru Mesin

Suara bising mesin stamping di pabrik biasanya tidak membuat Taul terdistraksi, tapi hari ini berbeda. Ia salah memasukkan data pada lembar kontrol. Riko, yang sedang menyeka keringat dengan handuk kecil di lehernya, menyenggol bahu Taul.

"Heh, Ul! Ngalamun bae. Fokus, mengko nek reject kabeh, kena SP koe," tegur Riko sambil tertawa kecil. (Heh, Ul! Melamun terus. Fokus, nanti kalau reject semua, kamu kena SP.)

Taul hanya menghela napas, meletakkan pulpennya. "Kurang turu, Rik." (Kurang tidur, Rik.)

"Kurang turu apa kakehan mimpi? Matamu keton abang kaya kuwe," selidik Riko. Ia mengajak Taul duduk sebentar di area smoking saat jam istirahat tiba. (Kurang tidur atau kebanyakan mimpi? Matamu kelihatan merah seperti itu.)

Taul terdiam, menyulut rokoknya. Asap mengepul, terbawa angin kipas industri yang besar. "Rik, koe tau ora... wis ora mikiri wong, wis ora pengin bali, tapi wong kuwi teka terus nang mimpimu?" (Rik, kamu pernah tidak... sudah tidak memikirkan orang, sudah tidak ingin kembali, tapi orang itu datang terus di mimpimu?)

Riko menatap Taul serius, lalu menyandarkan punggungnya. "Walah, kuwi jenenge unfinished business, Ul. Ana sing durung rampung nang jerone atimu."

"Tapi aku wis ora seneng, Rik. Aku wis fokus kerja nang Cikarang," sanggah Taul cepat.

"Seneng karo 'durung ikhlas' kuwi beda tipis, Ul," ujar Riko sambil menatap langit-langit pabrik yang tinggi. "Koe mbien karo Astri—cah Cilacap kuwi—ana sing durung diomongna, mbok? Koe mung mendem rasa kagummu. Alam bawah sadarmu kuwi nagih, kaya cicilan motor sing durung lunas. Selagi durung mbok lunasi nganggo kejujuran, de'e bakal teka terus nagih nang mimpimu."

Taul tertegun. Kata-kata Riko yang asal-asalan itu justru menghantam tepat di ulu hatinya.

"Dadi aku kudu piye? Mosok ujug-ujug nge-DM? Isin, Rik," kata Taul ragu. (Jadi aku harus bagaimana? Masak tiba-tiba nge-DM? Malu, Rik.)

"Halah, gengsi ora nggo wareg (gengsi tidak bikin kenyang). Ngomong bae apa anane. Ora nggo balen, tapi nggo 'plong'. Ben mimpimu resik, ben kerjamu nang kene ora keganggu bayang-bayang. Siki milih endi: isin sedelut apa mimpine keganggu selawase?"

Taul menunduk, menatap sepatu safety-nya yang berdebu. Obrolan singkat dengan Riko itu menjadi pemantik terakhir yang ia butuhkan. Di tengah deru mesin Cikarang yang tak kenal ampun, Taul menyadari bahwa kejujuran adalah satu-satunya jalan keluar.


Bab 6: Bahasa Hati dan Tanah Kelahiran


Malam di Cikarang terasa gerah, namun Taul justru merasa menggigil di dalam kontrakannya. Di tangannya, ponsel itu terasa seberat bongkahan besi. Layar itu masih menampilkan kolom *Direct Message* ke akun Astri yang selama ini hanya ia pandangi tanpa berani ia sapa dengan sungguh-sungguh.


Ia menarik napas panjang, mencoba merangkai kata. Awalnya ia ingin menggunakan bahasa Indonesia yang tertata, tapi terasa terlalu kaku, seolah ia sedang mengirim laporan kerja ke supervisor pabriknya.


"Ah, dudu kaya kie," gumam Taul. (Ah, bukan seperti ini).


Ia menghapus semuanya. Ia ingin bicara sebagai Taul yang dulu, pemuda yang pertama kali mengagumi Astri di bawah langit Meikarta. Ia ingin bicara dengan bahasa ibu, bahasa yang jujur. Jemarinya mulai menari:


> *"As... lagi dan lagi, koe teka maning maring ngimpiku. Embuh sebabe apa."*


Taul berhenti sejenak. Ia menatap kalimat itu. Ada rasa perih yang aneh.


> *"Padahal nang kene, hari-hariku wis fokus nggo uripku dewek. Perasaan sadarku wis ora nggo koe maning, tapi alam bawah sadarku jebule isih nyimpen ceritane dewek. Mbuh mbien aku tau kagum banget karo koe, tapi durung sempet tak omongna."*


Ia teringat betapa pengecutnya dia dulu. Hanya bisa memandang dari jauh, mengagumi cara Astri tertawa atau cara wanita itu memperlakukan orang lain dengan santun.


> *"Aku nulis kie ben perasaane ora ngendap terus, ben ora usah nyilih mimpiku nggo sekadar teka nyapa. Jujur, mbien aku pancen kagum karo koe. Ora mung merga rupamu, tapi merga karaktermu sing BAIK banget. Kuwi sing nggawe aku tau naruh ati."*


Taul terdiam cukup lama sebelum menuliskan bagian penutupnya. Bagian yang paling sulit karena itu berarti dia harus benar-benar merelakan.


> *"Muga-muga bar aku nulis kie, wis plong. Wis ora ana maning bayangmu teka maring ngimpiku. Maaf nek akhir-akhir kie koe keganggu karo aku sing sering ngirim DM. Wis, siki biasa bae, fokus maring kehidupane masing-masing. Aku harap koe ora sengit (benci) karo aku."*


Taul meletakkan ponselnya di atas dada. Jantungnya berdegup kencang. Di luar, suara motor dari arah jalur Pantura Cikarang terdengar menderu, tapi di dalam kamarnya, waktu seolah berhenti.


Ia merasa separuh dari dirinya baru saja pulang ke Cilacap, membasuh luka lama di pantai Teluk Penyu, dan kembali ke Cikarang dengan jiwa yang lebih ringan. Kalimat-kalimat "Ngapak" itu bukan sekadar kata-kata, tapi kunci yang membuka gembok hatinya yang selama ini berkarat.


Bab 7: Melepas Jangkar di Tengah Deru Industri


Setelah tombol biru bertuliskan *Send* itu ditekan, suasana kamar kontrakan Taul yang tadinya terasa pengap tiba-tiba menjadi sangat hening. Bunyi detak jam dinding murahan di atas pintu terdengar seperti dentuman keras. Taul meletakkan ponselnya dengan posisi layar menghadap ke kasur. Ia tidak ingin melihat apakah statusnya berubah menjadi *Seen* atau tidak.


Ia berjalan menuju jendela kecil yang menghadap ke arah jalanan Jababeka. Di kejauhan, lampu-lampu pabrik masih menyala terang, simbol dari roda hidup yang tak pernah berhenti berputar.


"Wis terkirim," bisik Taul pada dirinya sendiri.


Ada gejolak aneh di perutnya. Bukan rasa takut, melainkan rasa asing yang sudah lama tidak ia rasakan: **Kemerdekaan.** Selama ini, setiap kali ia bermimpi tentang Astri, ia merasa seperti memiliki utang yang menumpuk. Sebuah rahasia yang ia bawa dari Cilacap ke Cikarang, yang ia simpan rapat-rapat di sela-sela shift kerjanya, kini sudah lepas.


Ia membayangkan pesan itu terbang melewati kabel-kabel internet, melintasi kenangan di Meikarta, dan akhirnya mendarat di layar ponsel Astri. Taul sadar, dengan mengirimkan pesan itu, ia baru saja menyerahkan kendali mimpinya kembali ke tangannya sendiri.


*"Nek deweke maca, ya wis. Nek ora dibales, ya ora apa-apa. Sing penting nyong wis ora nglomboni awake dewek,"* (Kalau dia baca, ya sudah. Kalau tidak dibalas, ya tidak apa-apa. Yang penting aku tidak membohongi diri sendiri lagi), pikirnya.


Ia teringat betapa beratnya hari-hari kemarin, ketika bayangan Astri datang tanpa izin ke dalam tidurnya. Itu terjadi karena Taul menutup pintu di dunia nyata, tapi membiarkan jendela di alam bawah sadarnya terbuka lebar. Pesan tadi adalah caranya menutup jendela itu rapat-rapat.


Taul mengambil napas panjang, menghirup udara malam Cikarang yang khas dengan aroma logam dan debu jalanan. Namun, kali ini udara itu terasa lebih sejuk. Ia tidak lagi peduli apakah Astri akan menganggapnya aneh atau mengabaikannya. Keberaniannya untuk mengakui bahwa ia pernah kagum pada **kebaikan** Astri adalah bentuk penghormatan terakhirnya pada masa lalu.


Malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Taul merebahkan tubuhnya tanpa perasaan cemas. Ia menutup mata, siap untuk tidur. Bukan untuk mencari Astri, melainkan untuk benar-benar beristirahat.



Bab 8: Pagi yang Benar-Benar Baru


Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah ventilasi, membentuk garis-garis emas di lantai semen kontrakan Taul. Biasanya, ia akan bangun dengan perasaan lelah, seolah-olah jiwanya baru saja melakukan perjalanan jauh mengejar bayang-bayang di dalam mimpi. Namun, pagi ini berbeda.


Ia terbangun sebelum alarm berbunyi. Pikirannya kosong, namun dadanya terasa lapang. Tidak ada sisa aroma parfum yang samar, tidak ada gema tawa yang menghantui. Alam bawah sadarnya akhirnya menyerah; ia telah melepaskan apa yang sudah lama tidak lagi memiliki rumah di dunia nyata.


Taul meraih ponselnya. Ada sebuah notifikasi. Ia sempat ragu, namun rasa penasaran itu tidak lagi disertai dengan debar jantung yang menyakitkan.


Itu dari Astri. Singkat, padat, namun cukup untuk menutup buku cerita yang sudah terlalu lama terbuka.

*"Matur nuwun ya, Ul, atas kejujurane. Aku ora benci koe kok. Sukses nggo uripmu nang Cikarang ya."*


Taul tersenyum tipis. Tidak ada keinginan untuk membalas lagi. Tidak ada dorongan untuk bertanya "apa kabar?" atau mencoba menjalin komunikasi lebih jauh. Balasan itu bukan awal dari babak baru bagi mereka berdua, melainkan titik akhir yang manis bagi sejarah pribadinya.


Ia beranjak dari kasur, membuka pintu kontrakannya lebar-lebar. Di depannya, aktivitas warga perantauan di Cikarang sudah mulai menggeliat. Suara kompor gas dari warung makan sebelah, deru motor yang berangkat shift pagi, dan kepulan asap kopi dari warung kopi di pojok jalan.


Taul mengambil handuk dan bersiap-siap. Sambil menyalakan mesin motornya, ia menatap ke arah langit yang cerah—arah yang sama jika ia ditarik garis lurus menuju Meikarta. Tempat itu kini bukan lagi sebuah monumen luka atau kerinduan yang tertahan, melainkan hanya sebuah tempat indah di mana ia pernah belajar tentang kekaguman dan keikhlasan.


*"Wis siki biasa bae,"* gumamnya pelan, mengulangi kalimat di pesan semalam.


Ia memutar gas motornya, membaur dengan ribuan perantau lainnya. Langkahnya kini tidak lagi berat oleh rahasia. Bayang-bayang Astri telah benar-benar larut dalam hiruk-pikuk industri, tertinggal jauh di belakang spionnya.


Taul tidak lagi berjalan dengan beban masa lalu. Ia sedang berlari menuju masa depannya sendiri. Pagi itu, ia benar-benar pulang—bukan ke Cilacap, melainkan ke dalam dirinya sendiri yang utuh.


**SELESAI**

Wak_rif

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alkisah 8ersamamu.

Estetika Rindu

Seni Merespons Reaksi Ereksi