Alkisah 8ersamamu.

 


Alkisah bersamamu.

Serang baru. Pada pukul 23.36, hari Rabu, tanggal 10 Desember, di luar terdengar rintik hujan. Aku mulai mengetik pada layar handphone yang di pojok kanan atas menunjukkan persentase baterai masih 83 persen, cukuplah untuk menulis tanpa kabel charger terpasang pada konektor. Ya, aku sengaja menulis ini untuk menjaga konsistensiku dalam memperingati hari jadi pernikahanku, yang pada tanggal 25 Desember nanti tepat 8 tahun.


Kali ini aku ingin menuliskan tentang bagaimana proses awal pertemuanku dengan dirinya. Pada saat itu, sekitar tahun 2014, aku pertama kali bertemu dan mengenalmu di suatu acara pagelaran budaya yang berada di desamu. Entah apa yang membawaku pergi menyaksikan pagelaran itu, tapi momen pertemuan pertama kita menjadi kenangan yang tak terlupakan.


Saat itu aku yang sudah berada di lokasi pagelaran budaya, aku yang sedang duduk di kendaraanku dan tak sengaja melihatmu di antara kerumunan. Sejenak aku memperhatikanmu dari kejauhan, lalu aku mencoba mendekatimu dengan niat ingin berkenalan. Aku menanyakan nama, kamu sedikit kaget dan terkejut, kamu hanya tersenyum lalu tertawa, tanpa menjawab namamu siapa. Tak menyerah di situ, aku mencoba menanyakan nama akun Facebookmu, kamu memberitahukannya kepadaku. Aku coba mengetik namamu pada kolom pencarian, aku langsung mengirim permintaan pertemanan dan tak lama kemudian kamu mengkonfirmasinya.


Aku menggulir keypad pada handphoneku, melihat-lihat isi berandamu. Ya, sepertinya aman, tidak ada foto lelaki di album foto Facebookmu. Waktu sudah larut malam, aku bergegas pulang. Sesampainya di rumah, aku mencoba mengirimkan pesan Facebook untuk meminta nomor teleponmu. Kamu sedikit berbelit, tapi akhirnya memberikannya juga. Kami terus berkomunikasi lewat pesan singkat dan panggilan suara, meskipun obrolannya tidak terlalu penting.


Hari demi hari, kita masih berkomunikasi, namun dengan berjalannya waktu, komunikasi kita mulai berkurang. Kamu jarang aktif di Facebook, dan nomor teleponmu tidak bisa dihubungi lagi, mungkin nomor teleponmu sudah ganti. Kurang lebih setahun, aku tidak berkomunikasi denganmu.


Setelah sekian lama, aku mencoba mengirim pesan ke akun Facebookmu untuk menanyakan kabar dan bertukar nomor WhatsApp. Setelah lama basa-basi, aku memulai obrolan yang serius, dan aku mengatakan, jika kamu tidak keberatan aku ingin datang ke rumahmu menemui orang tuamu, untuk bersilaturahmi sekaligus mengungkapkan bahwa aku ingin memulai menjalin hubungan yang serius denganmu. Kamu terkejut dan meminta waktu untuk memikirkan hal itu.


Setelah berselangnya waktu, akhirnya kamu memberikan izin kepadaku untuk datang ke rumahmu. Pada tanggal 30 April 2017, aku yang ditemani oleh bapak dan kakak dari Almarhum kakekku, datang ke rumahmu dengan niatan untuk melamarmu. Mulai saat itu menjadikan momen awal aku denganmu menjalin hubungan yang lebih serius. Hingga sampai akhirnya kita melangsungkan pernikahan, pada hari Senin tanggal 25 bulan Desember tahun 2017.


Pada bulan Desember 2025 ini, usia pernikahan kita sudah sampai tahun ke-8. Filosofi angka delapan, dalam budaya Jawa, angka 8 (disebut Wolu) memiliki makna mendalam terkait kebajikan, kehormatan, kekayaan, dan kesuksesan, sering diartikan sebagai Asta (kebajikan), Manggala (pembesar), Salira (wujud), dan Naga (kewibawaan), serta bentuknya yang tanpa ujung melambangkan aliran keberuntungan yang tak putus.

Dan dalam filosofi simbolisme dan umum, juga mengatakan angka delapan melambangkan ketidakterbatasan (infinity): simbol ∞ melambangkan keberlanjutan, siklus, dan potensi tak terbatas. Keseimbangan & kesempurnaan: bentuknya merepresentasikan harmoni antara dua sisi, dunia spiritual dan material, serta baik dan buruk.


Aku dan kamu memiliki banyak perbedaan, dari cara berpikir, gaya berbusana, warna favorit, lagu kesukaan hingga soal memilih makanan. Apalagi soal pemahaman estetika isi cangkir. Menurut pemahamanmu cangkir akan lebih indah jika diisi dengan seduhan teh hangat. Sedangkan dalam pemahamanku mengatakan, cangkir akan lebih mempesona jika diisi dengan seduhan kopi dengan tekstur yang pekat.meski isi cangkir kita berbeda, akan tetapi meja kita sama.

Ya, semua itu bukan tentang perbedaan, melainkan tentang keseimbangan. Meja dengan segala macam isi di atasnya akan lebih bermanfaat dan berimbang, dibandingkan dengan meja yang hanya diisi dengan rangkaian dan taburan kembang, wangi serta keindahannya bersifat sementara, setelah layu akan disapu lalu dibuang...


Doaku di tahun ke-8 ini, Allah Subhanahu wa ta'ala senantiasa menjaga keutuhan hubungan rumah tangga kita.


s9t3.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Estetika Rindu

Seni Merespons Reaksi Ereksi