Seni Merespons Reaksi Ereksi

Seni Merespons Reaksi Er**si


Saat bayang tirai bermotif bunga jatuh lalu keheningan mulai menyergap, otak sering kali menuju hiruk-pikuk khayalnya sendiri. Ia berkelana tanpa peta, menembus labirin renjana raya yang tertutup debu. Di balik jarak yang tersekat waktu, terjadilah sebuah simfoni senyap yang mendesak di balik kulit, sebuah ketegangan yang tak kasat mata, namun nyata. Pelan bagai nyala sekam, ia menyalakan gairah yang menuntut ruang, bergolak meminta untuk segera melepas kendali pada malam yang sunyi.


Di malam yang sunyi, tanpa adanya wanita penyaji kopi pencari belati, malam ini aku, si pria pembuka tirai bermotif bunga, terpaksa memilih jalan yang berbeda. Ketika tubuh mendesak untuk berserah pada hasrat fisik yang fana, batin ini berbisik untuk bertahan. Ada jeda panjang yang kuambil di antara helaan napas; sebuah ruang tunggu tempat aku menjinakkan peluru tanpa harus melepaskan kendalinya. Aku menolak tunduk, memilih untuk memeluk sunyi dan mencari penawar yang lebih abadi.


Respons yang kupilih adalah mengalihkannya pada seni. Kujadikan layar ponsel, kanvas, atau dinding kamar sebagai medan pengalihan sekaligus tempat berdamai. Di sana, kubiarkan jemariku menari dengan bebas, menumpahkan sisa-sisa kegelisahan yang membara menjadi bait-bait kata yang jujur atau goresan garis yang liar. Pada akhirnya, hasrat itu tidak padam; ia hanya berganti wujud menjadi aksara yang bercerita atau sketsa yang berbicara.


Serang Baru, 30 mei 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alkisah 8ersamamu.

Estetika Rindu